My Page Views

Friday, April 8, 2011

DARAH YESUS


Pada suatu malam di gereja, seorang wanita muda merasakan panggilan Tuhan pada hatinya. Ia meresponnya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Wanita muda itu pernah mempunyai masa lalu yang sulit, terlibat dalam alkohol, obat-obatan, dan tindakan asusila. Tetapi, perubahan dalam dirinya sangat nyata.

Sejalan dengan waktu, ia menjadi anggota gereja yang setia. Setahap demi setahap ia terlibat dalam pelayanan, mengajar anak-anak muda. Tak seberapa lama kemudian, wanita muda ini tertarik dengan anak lak-laki pendeta. Hubungan bertumbuh dan mereka mulai merencanakan pernikahan, dan di sinilah persoalan timbul.

Kamu tahu, hampir separuh anggota gereja berpikir bahwa seorang wanita muda dengan masa lalu demikian tidak cocok dengan anak laki-laki pendeta. Gereja mulai berselisih pendapat dan bertengkar tentang masalah ini. Kemudian, mereka memutuskan untuk mengadakan sebuah pertemuan. Pertemuan itu pun tidak dapat dikendalikan karena masing-masing berargumentasi dan ketegangan pun memuncak.

Wanita muda ini menjadi sangat terguncang karena masa lalunya dikorek-korek. Anak laki-laki pendeta itu tidak dapat menahan derita yang dialami calon istrinya. Ketika ia mulai menangis, anak laki-laki pendeta itu berdiri dan berbicara.

"Aku menantang tiap-tiap kamu semua untuk benar-benar berpikir apa yang terjadi malam ini. Bukan masa lalu tunanganku yang sedang diuji coba di sini. Yang sebenarnya kalian pertanyakan adalah kemampuan darah Yesus untuk menyucikan dosa. Hari ini kalian sudah meragukan dan menguji coba darah Yesus. Jadi, apa keputusan kalian? Apakah darah Yesus dapat menyucikan dosa? ... atau tidak?"

Air mata mengucur dari mata tiap orang Kristen di auditorium itu. Semua menangis ketika menyadari bahwa mereka sudah menghina darah Yesus Kristus.

Terlalu sering, bahkan para umat Kristen, kita mengorek masa lalu dan menggunakannya sebagai senjata untuk melawan saudara-saudara kita, atau bahkan melawan diri kita sendiri. Pengampunan adalah bagian dasar dari injil Yesus Kristus. Jika darah Yesus tidak dapat membersihkan jiwa tiap orang, maka kita akan mengalami kesulitan yang besar.

Puji-pujian mazmur berkata," Apa yang dapat menyucikan dosaku? Tidak ada satupun kecuali DARAH YESUS!" (PPPK)

Thursday, April 7, 2011

Luka Hati


"Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tuna dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan" (Yesaya 53:2-3)


Membicarakan topik hati yang dilukai orang lain adalah topik yang berat. Kita semua pernah merasakan penderitaan hidup, tetapi penderitaan karena dilukai orang merupakan satu penderitaan yang khusus yang sulit diterima orang sebab ia merasa ini adalah penderitaan yang tidak sewajarnya diterima.

Kita selalu mempunyai harkat diri atau harga diri. Harga diri merupakan dasar eksistensi yang membuat kita berani terus hidup dalam dunia ini. Ketika kita dilukai, maka goncanglah harkat diri itu dan goncanglah penilaian diri itu. Kita merasa sebagai orang yang terhormat dan cukup baik, sehingga wajar jika kita dihargai orang lain. Tetapi ketika kita tidak menerima penghormatan itu, sebaliknya kita dihina. Ini menimbulkan suatu luka di hati kita.

Pada saat itu terjadi, ada satu keluhan yang terjadi dalam hati kita. Kita bisa menangis ketika mengingat peristiwa luka yang diberikan seseorang kepada kita. Dilukai merupakan hal yang sangat sulit kita terima. Namun kadang kala kita hanya terlalu sadar bagaimana orang melukai kita tetapi kita tidak menyadari kita melukai orang lain. Kita hanya menuntut bagaimana orang harus memperlakukan kita tetapi kita lupa bagaimana seharusnya memperlakukan orang lain seturut apa yang kita juga harapkan diperlukan sedemikian.

Tuhan Yesus berkata jika kita ingin orang lain memperlakukan apa yang baik, maka kita terlebih dahulu lakukan kepada mereka, Ini adalah etika yang aktif dan bukan pasif. Kita sering kali beretika pasif. Jikalau orang berbuat baik kepada saya, barulah saya akan baik kepadanya. Kalau orang membenci saya, saya juga membencinya. Atau kita berkata, "Kalau orang baik kepada saya, saya juga akan baik kepadanya; tapi kalau orang jahat kepada saya, saya akan lebih jahat lagi." Maka tanpa sadar kita telah mengaku bahwa kita memiliki kebencian yang aktif namun cinta yang pasif. Inilah dosa manusia. Inilah kefatalan yang terjadi akibat Kejatuhan Adam yang mempengaruhi seluruh umat manusia, dimana kita hanya mau melakukan kebaikan secara pasif.

Sedemikian pasifnya kebaikan kita, sampai-sampai ketika orang berbuat baik kepada kita, kita curigai. Bahkan menduga-duga mungkin kebaikan ini palsu dan mempunyai maksud jahat yang tersembunyi. Perlu sampai orang itu terus berbuat baik, walau kita tidak menghargai, dan ia terus berbuat baik, sampai akhirnya kita sadar bahwa ia sungguh-sungguh berbuat baik kepada kita, barulah kita terharu dan ingin membalas sedikit kebaikannya. Ini semua menunjukkan betapa kebaikan kita sedemikian pasifnya. Bagaimana sikap kita yang berinisiatif aktif menghormati dan menjunjung tinggi harkat orang lain, di situlah ukurannya kedewasaan rohani kita.

Kedewasaan Rohani dan Dilukai
Dalam mutual relationship, adakalanya orang dengan sadar dan berencana, tetapi kadang juga secara tidak sadar telah menghina dan melukai hati kita. Jika hal itu terjadi, biarlah ini menjadi sarana pengujian sejauh mana pertumbuhan rohani kita. Adakah kerohanian kita masih kekanakkanakan berkeinginan membalas perbuatan yang menyakitkan itu? Ataukah justru dalam kedewasaan rohani kita berinisiatif melakukan kebaikan kepada orang yang sengaja melukai hati kita dengan segala kebaikan yang Tuhan sudah berikan kepada kita? Tuhan Allah adalah Tuhan yang suci, adil, kasih, baik dan setia. Etika orang Kristen harus didasarkan kepada sifat-sifat ilahi ini. Yesus Kristus mengajarkan kepada kita bahwa kita jangan hanya mengasihi orang yang baik kepada kita. Jika kamu hanya mengasihi orang yang baik kepadamu, apa bedanya kamu dengan orang kafir? Kasihlah musuhmu, karena Bapamu di sorga seperti itu adanya.

Memang tindakan dan etika seperti ini tidak mudah, tapi itulah Kekristenan. Kadang kita merasa sudah tahu banyak dan mengeri Alkitab dan sudah melayani banyak. Tetapi kemudian, hanya di dalam satu kejadian kecil saja yang tidak mengenakkan, ketika kita dilukai orang lain, kita sudah berteriakteriak marah dan menangis. Tetapi ketika kita yang melukai orang lain, kita tidak merasa melakukannya. Kita mengelak dan berkata itu hal yang tidak sengaja dan mengecilkan betapa seriusnya luka dalam hati orang tersebut. Memang kita tidak sengaja melukai, tetapi apakah itu berarti kita tidak boleh peduli? Kita tetap harus bertanggung jawab ketika kita melukai hati seseorang.

Beberapa tahun yang lalu di Taiwan, ada seorang pasien yang meninggal karena diberi obat yang salah. Orang yang memberi obat menyatakan bahwa dia tidak sengaja melakukan itu. Orang ini tidak bisa berkata, "Saya tidak sengaja, maka itu bukan urusan saya." Ia harus dituntut karena keteledoran ini. Tetap ada kewajiban moral bagi orang yang tidak sengaja. Maka Daud berkata, "Ampunilah dosaku yang tidak kusadari, atau yang belum dinyatakan." Itu berarti, ketika kita berbuat salah kepada orang lain, meskipun kita tidak sadar atau tidak direncanakan, namun perbuatan kita telah melukai hati orang, kita harus memohon pengampunan untuk dosa ini. Kita harus banyak belajar dalam hal melukai dan dilukai. Kadang kita tidak sengaja sehingga kita tidak berasa apa-apa yang bisa tidur nyenyak tetapi yang dilukai diruginkan dan sedih sekali. Itu sebab kita harus memiliki kepekaan seperti Daud yang memohon pengampunan bagi dosa-dosa yang tidak disadari. Dia sadar bahwa hanya kemurahan Tuhan Allah yang bisa mengampuni dosa-dosa yang tidak disadarinya. Tuhan tahu kelemahan dan keterbatasan pengetahuan kita. Tuhan murah hati, dan ketika kita memohon pengampunan-Nya dengan tulus, Ia mengampuni kita.

Alasan Melukai Hati Seseorang
Ada dua bentuk tindakan melukai hati orang lain. Pertama, melukai secara tidak sengaja. Kedua, melukai secara sengaja. Kalau seseorang melakukan sesuatu yang akhirnya melukai hati anda, tetapi ia tidak sadar, ini tidak berarti orang itu tidak bersalah, tetapi juga kamu tidak boleh mempersalahkan orang itu. Karena bagaimanapun juga orang itu tidak sadar melakukannya. Orang seperti ini haruslah kita kasihani, bukannya dituntut. Orang Kristen harus penuh pengertian, penuh simpati, penuh belas kasihan kepada mereka yang tidak sadar. Di situ engkau baru bisa menang, engkau bisa mengalahkan diri sendiri dan mengalahkan kesulitan dalam situasimu.

Mengalahkan diri atau menyangkal diri adalah hal yang utama, sebab diri kita adalah musuh yang terbesar. Tidak mungkin kamu mengajar atau menghibur orang lain, dan menjadi kekuatan yang bisa mengubah orang lain, jika kamu sendiri belum mampu mengalahkan dirimu sendiri.

Kalau seseorang melukai hati kita dengan sengaja, maka kita harus menghadapinya dengan cara berbeda. Tetapi bagaimana membedakan bahwa seseorang melukai kita dengan sengaja atau tidak? Ada orang selalu mempunyai pikiran bahwa orang lain selalu berbuat tidak baik terhadapnya dan semua orang sengaja melukainya. Dalam psikologi, orang demikian disebut mengalami paranoia. Paranoia berarti selalu curiga menganggap orang lain mau merugikan, mencelakakan, mengancam atau menyusahkan dia. Paranoia selalu melihat dan memikirkan orang lain dengan pikiran negatif. Kalau orang lain sebanarnya tidak sengaja, tetapi dianggap pasti sengaja, maka kita jadi orang yang paranoia. Orang yang paranoia selalu hidup dalam kesulitan besar yang sulit ditolong, kecuali kiat mengalahkan diri sendiri.

Jikalau engkau belum bisa membedakan dengan tepat apakah seseorang melakukan tindakan itu dengan sengaja atau tidak, janganlah engkau memutuskannya terlalu cepat. Mengambil keputusan terlalu cepat berarti kita menjadi hakim yang menvonis tanpa dasar yang cukup. Dosa memvonis orang lain secara tidak sesuai mungkin lebih berat dosanya daripada dosa mereka yang secara tidak sengaja melukaimu. Belajar mengasihi dan menjaga mutual relationship dengan mutual respect itu tidaklah mudah, namun kita harus terus belajar dan bertumbuh dalam kerohanian makin serupa Kristus.

Alasan Sengaja Melukai
Kalau ada orang yang sengaja melukai hati kita, ada beberapa sebab:
1. Ketakutan Persaingan Manusia selalu takut dan tidak mau disaingi.
Mereka paling senang kalau dirinya paling hebat. Kalau kamu dilukai orang karena kamu dianggap menyaingi dia, janganlah kamu sedih. Mengapa? Karena lebih baik menjadi sasaran iri hati orang daripada kamu menjadi tukang iri.

Mana yang lebih susah hidupnya: sasaran iri atau tukang iri? Merasa iri terhadap orang lain itu susah luar biasa. Menjadi sasaran iri orang lain juga susah, tetapi tidak sesusah orang yang iri. Kalau kamu menjadi sasaran iri orang lain, itu berarti kami memiliki kelebihan. Maka jangan membenci orang yang iri kepadamu, tetapi kasihanilah dia. Kalau kamu menjadi sasaran iri berarti kamu punya kelebihan yang ia tidak miliki. Kelebihan itu adalah anugerah Tuhan, maka kamu jangan mencela orang yang iri kepadamu, sebaliknya kasihani dia.

Ada dua sebab mengapa kamu menjadi sasaran iri orang lain. Pertama, karena memang kualitas kamu tinggi; kedua, karena kamu terlalu menonjolkan diri. Maka kalau kamu mempunyai kelebihan, jangan sering menonjolkan kelebihanmu untuk membuat orang lain jadi iri, itu dosa.

Sekalipun kamu hebat dan high achievement, tetaplah rendah hati dan low profile. High achievement, low profile; high thinking, low living. Inilah seni hidup. Inilah sikap hidup orang Reformed. Dengan demikian, kita bisa bergaul baik dengan orang lain. Kalau orang akhirnya iri kepada kamu, itu problema orang itu sendiri. Tetapi kalau kamu terlalu menonjolkan diri dan merebut kemuliaan Tuhan, terlalu mengagungkan diri sendiri, itu dosamu. Maka dalam hal iri, kamu harus sangat berhati-hati akan hal ini.

2. Salah Mengerti
Sebab kedua anda dilukai orang adalah dia salah mengerti anda. Kamu difitnah atau orang memberi tanggapan atau pikiran yang salah tentang dirimu, sehingga kamu merasa terluka. Tetapi janganlah kamu terlalu cepat membalas. Coba selidiki dulu mengapa orang itu begitu tidak baik terhadap kamu? Mengapa kamu dilukainya? Kalau itu hanya salah mengerti, ada dua hal yang harus kita perhatikan. Pertama, kita tidak sembarangan membela diri; kedua, kita tidak boleh membiarkan kebajikan kita difitnah orang lain. Ini adalah ajaran Alkitab, jangan sampai kebajikanmu itu difitnah oleh orang lain. Kalau kamu baik, tetapi difitnah, kamu berhak membela diri.

Tetapi jika kamu tidak bisa membela diri saat difitnah, maka cara satu-satunya adalah serahkan kepada Tuhan dan waktunya Tuhan. Terlalu cepat membela diri atau terlalu cepat menyerang orang lain akan membuat banyak hal semakin rumit dan sulit. Di dalam hidup gerejawi selama berpuluh-puluh tahun, saya melihat antara majelis, pendeta, penginjil, tua-tua dan anggota timbul banyak perselisihan yang sulit didamaikan dan diselesaikan. Apa sebabnya? Karena semua tidak mau menunggu waktu yang tepat, semua tergesa-gesa dan cepat membela diri.

Pada saat orang lain yang salah mengerti atas apa yang kita lakukan atau menfitnah apa yang kita lakukan, janganlah terlalu cepat membela diri. Kadang waktulah yang akhirnya memenangkan anda, ketika matanya celik dan melihat semua yang ia fitnahkan tidak benar, ia akan menjadi sungkan sekali. Cara terbaik untuk menghadapi orang-orang yang melukai hati kita adalah membuat mereka merasa sungkan sekali, maka kita tidak perlu lagi membela diri.

3. Standar yang Tinggi

Orang melukai kita atau salah mengerti dan menghina kita karena dia memiliki suatu standar yang tinggi, yang lebih tinggi dari standar kita. Kalau kamu dihina karena orang lain memasang standar yang lebih tinggi, kamu tidak perlu marah dan tidak perlu menghina diri, karena kamu memiliki kelebihanmu sendiri yang perlu kamu kembangkan secara maksimal untuk kemuliaan Tuhan. Kalau orang lain memiliki standar yang berbeda dari standar kita, kita tidak perlu membela diri dan juga tidak perlu menyerang, tetapi kita perlu mengerjakan segala sesuatu dengan sebaik mungkin. Sampai suatu saat ia menyadari bahwa kita memiliki nilai tersendiri dan tidak kalah baiknya dengan standar yang ia pakai.

Mari kita memupuk dan menuntut diri sampai kita mempunyai kemajuan yang baik, sehingga kita tidak takut dihina oleh orang lain. Setiap kita mempunyai kehormatan, harkat, dan nilai diri. Nilai itu akan diukur oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. Jika kita bertahan dalam nilai kerohanian yang sungguh-sungguh, maka suatu kali kelak kita akan dimuliakan Tuhan.

Selama hidup-Nya di dunia ini, Yesus Kristus dihina, diejek, difitnah, diumpat, dan diperlakukan secara tidak adil. Tetapi sebelum Ia naik di kayu salib, Ia berdoa, "Bapa, muliakan Anak-Mu sebagaimana Dia sudah memuliakan Engkau di atas bumi. Orang-orang yang Engkau berikan kepada- Ku, sudah Kuberikan hidup kekal. Seorang pun tidak ada yang akan binasa." Doa Yesus Kristus harus menjadi teladan bagi kita. Ketika Ia dihina dan difitnah, Ia tidak membalas, tidak membela diri sewaktu di kayu salib, namun akhirnya Ia dimuliakan lebih tinggi dari siapapun.

-------------------------------------------------------------

Pengkhotbah: Pdt Stephen Tong

Doa Menentukan Kemenangan


“Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya lebih kuatlah Amalek.” (Keluaran 17:11)

Ayat diatas merupakan ayat yang disampaikan ketika bangsa Israel berperang melawan orang-orang Amalek. Kemenangan bangsa Israel atas Amalek tidak ditentukan oleh strategi, perencanaan, kekuatan dan kemampuan pasukan Yosua dalam menghadapi pertempuran, namun oleh tangan Musa yang terangkat atau diturunkan.

Hal yang tampaknya “aneh” tetapi benar-benar terjadi dalam pertempuran itu. Ini juga merupakan gambaran pertempuran bagi anak-anak Tuhan di tengah-tengah dunia yang menghadapi krisis, himpitan persoalan hidup dan desakan-desakan ekonomi yang makin menggempur hidup kita. Ingat kita hidup juga dalam peperangan menghadapi hawa nafsu daging dan rayuan dunia yang menginginkan kita kalah dan hancur dalam hidup kita. Apa yang bisa kita pelajari dari ayat tersebut?

1. Doa memberi pengaruh
Jelas dikatakan dalam ayat tersebut jika Musa mengangkat tangan maka kuatlah Israel, jika menurunkan tangan maka kuatlah Amalek. Dalam ayat ini diberitahukan bahwa doa memberi pengaruh anda akan menjadi kuat atau anda akan menjadi lemah.
1 Tesalonika 5:17 “Tetaplah berdoa“ ayat yang diajarkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk tetap memiliki spirit/roh doa dalam diri mereka, sebab doa itu memberi pengaruh kepada yang berdoa. Doa kita akan memberi kekuatan dalam hidup kita untuk menghadapi segala lawan dan musuh dalam kehidupan kita.
Filipi 4:13 “Segala perkara dapat kutanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,“ berdoa memberi dampak kekuatan bagi kita.

2. Doa menentukan Kemenangan
Ternyata dalam peristiwa diatas doa memberi pengaruh kemenangan dalam peperangan Yosua dengan Amalek. Demikian juga dalam kehidupan kita jika kita tidak berdoa maka kita sedang memberikan diri kita untuk dikalahkan oleh musuh-musuh kehidupan kita. Tangan Musa yang terangkat mempengaruhi kemenangan Yosua, jika tidak terangkat maka kekalahan terjadi atas Yosua. Jika kita ingin mengalami kemenangan demi kemenangan dalam persoalan hidup ini “berdoalah dan berdoalah”, maka kemenangan akan berpihak dalam hidup kita.
Roma 8:37 "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita" TUHAN YESUS telah memberi kemenangan tetapi itu akan terlaksana jika kita hidup dalam doa kepada TUHAN YESUS.

3. Doa di atas segalanya
Dalam pertempuran pasti didalamnya ada strategi, perencanaan dan perhitungan-perhitungan yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran kekuatan musuh dan menghitung kekuatan kita. Tetapi fakta nas di atas menunjukkan bahwa tanpa
tangan terangkat maka strategi pertempuran apapun yang telah direncanakan tidak memberi dampak kemenangan. Tempatkan doa di atas strategi, perencanaan dalam menghadapi situasi dan pergumulan hidup, maka kemenangan yang kita cita-citakan akan terlaksana dalam hidup kita. Manusia boleh merancangkan tetapi keputusan Tuhan-lah yang terlaksana.

KESIMPULAN
Jadikan doa kepada Tuhan Yesus menempati prioritas yang utama dalam hidup kita, karena di dalam doalah ditentukan kemenangan atau kekalahan dalam pertempuran hidup kita untuk menghadapi segala persoalan hidup, keinginan dunia, keinginan
daging, ekonomi bahkan melawan sakit penyakit. Oleh karenanya doa menjadi sangat penting untuk menentukan kemenangan, jika tidak berdoa maka kita sedang membawa diri kita untuk dikalahkan oleh musuh-musuh kita.

Dapatkah Manusia Memenuhi Standar Yesus?


Pernahkah anda bertemu dengan seorang yang tidak percaya kepada Yesus dan menganggap Yesus hanyalah orang biasa? Ada orang yang menganggap Yesus manusia biasa yang tidak lebih baik dan lebih besar daripada orang besar lainnya yang pernah dicatat dalam sejarah.

Bahkan, ada pula yang mengklaim bahwa mereka juga bisa melakukan seperti apa yang pernah Yesus lakukan. Untuk mereka yang berpikir bahwa mereka juga bisa melakukan semua yang pernah Yesus lakukan, beberapa daftar perbuatan Yesus yang pernah dilakukanNya ini mungkin bisa menjadi patokan awal:
1. Memberi makan 5000 orang tamu yang tak terduga, dan kemudian masih menyisakan banyak sekali makanan yang bahkan jauh lebih banyak daripada yang disediakan pada awalnya.
2. Membuat angin ribut dan badai tunduk pada perintahmu, sehingga angin dan gelombang menjadi reda.
3. Dianggap menjadi ancaman bagi sebagian orang, sehingga mereka menuntut engkau dihukum mati. (Engkau harus bisa melakukannya hanya dengan apa yang engkau ucapkan, tanpa demonstrasi, kekacauan, bakar-membakar, atau jenis
kekerasan apapun).
4. Bangkit pada hari ketiga setelah dihukum mati dan dinyatakan sudah benar-benar mati.

Ini baru hal-hal sederhana yang telah Yesus lakukan. Sekarang, mari kita lihat syarat-syarat lain yang jauh lebih sulit (perlu anda ketahui bahwa anda tidak perlu mempercayai Alkitab untuk mengetahui bahwa Yesus telah melakukan semua hal ini). Selama lebih dari 2000 tahun setelah kematianmu (dan juga kebangkitanmu), engkau harus melakukan hal-hal ini:
1. Setiap minggu, jutaan orang berkumpul di ribuan tempat dengan satu tujuan yaitu untuk menceritakan kembali betapa baiknya engkau.
2. Ribuan rumah sakit dan sekolah harus dibangun dan dioperasikan oleh karena namamu.
3. Kalender, yang digunakan di hampir seluruh dunia, harus dimulai sesuai dengan saat engkau dilahirkan.
4. Banyak orang harus tetap merasa bahwa cukup pantas mereka menghabiskan waktu hanya untuk membuktikan bahwa engkau adalah seorang pendusta (sementara jika engkau benar-benar pendusta, maka engkau akan segera dilupakan
orang).
5. Hidupmu haruslah menjadi standar kebaikan termulia bagi sebagian besar penduduk dunia, bahkan bagi banyak orang yang mengklaim bahwa mereka tidak punya hubungan apapun dengan aliran yang engkau dirikan untuk dan memuja dan
melayanimu.
6. Yang paling penting dari semuanya adalah engkau hanya punya waktu 3,5 tahun untuk melakukan semua yang telah disebutkan di atas.

Tuesday, April 5, 2011

Tujuan Hidup

II Korintus 3:15-18

Mengapa saya ada di bumi ini? Tak diragukan bahwa pertanyaan ini pada suatu waktu akan melintas di pikiran setiap orang. Teori evolusi yang tidak alkitabiah menyatakan bahwa kita semata-mata hanya menumpang hidup dan akan kembali pada ketiadaan pada saat kita meninggal. Propaganda budaya mengatakan bahwa kitalah yang memilih sendiri takdir kita – dengan kata lain, kita dapat hidup untuk alasan apapun yang kita pilih. Namun itu sama sekali tidak benar! Tuhan telah menempatkan Anda di bumi ini untuk menggenapi maksud-Nya.

Bapa surgawi memiliki rancangan yang unik untuk hidup setiap orang, namun Ia menakdirkan satu tujuan yang sama bagi kita semua: untuk menjadi serupa dengan gambaran Yesus Kristus. Proses penyempurnaan moral, rohani dan fisik kita dimulai di atas bumi ini dan diselesaikan di surga. Kebanyakan karya yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan dunia kita berpusat pada karakter kita. Ia menunjukkan kepada kita bagaimana caranya untuk menjadi orang yang mengasihi, baik dan penuh damai sejahtera seperti Yesus.

Orang mungkin berpikir bahwa untuk menjadi seperti Anak Allah memerlukan usaha yang sangat banyak. Namun kebenarannya adalah, kita tidak dipanggil untuk mengerjakan hal itu. Roh Kudus tinggal di dalam orang percaya dan kemudian menjalani kehidupan Kristus melalui orang percaya itu. Orang Kristen memiliki tanggung jawab untuk taat pada tuntunan-Nya. Ini berarti kita meresponi setiap keadaan dan peristiwa dengan pertanyaan ini: ”Bagaimana Engkau akan memakai hal ini untuk membuat saya menjadi seperti Yesus?”

Tuhan yang berdaulat ada di belakang segala sesuatu yang terjadi pada Anda – entah Ia menciptakan situasi itu secara langsung maupun Ia mengijinkan hal itu terjadi. Baik pencobaan maupun kemenangan telah dirancang untuk menggenapi maksud Tuhan yang besar: menciptakan suatu kehidupan yang mencerminkan kasih dan kemuliaan-Nya kepada dunia ini.
-------------------------------------------
Sentuhan Hati (05/04/11)

Monday, March 14, 2011

KESABARAN DALAM DOA

Mana kala apa yang kita pikirkan tidak tepat, TUHAN berkata, "TIDAK."
Tidak - kala pemikiran itu bukan pemikiran yang terbaik
Tidak - kala pemikiran itu sama sekali salah
Tidak - walaupun pemikiran tersebut mungkin saja dapat menolongmu, namun juga akan menimbulkan masalah bagi orang lain

Mana kala waktunya tidak tepat, TUHAN berkata, "PERLAHANLAH."
Apa jadinya kelak bila TUHAN menjawab setiap doa secepat kita menjentikkan jari-jari kita? Tahukah engkau apa yang akan terjadi?
Tuhan akan menjadi hambamu, bukan Tuanmu.
Tiba-tiba saja TUHAN mengabdi kepadamu, bukan engkau yang mengabdi
kepada-NYA.

Mana kala engkau berbuat kesalahan, TUHAN berkata, "BERTUMBUHLAH."
Orang yang mementingkan dirinya sendiri harus bertumbuh di dalam ketidak-egoisan.
Orang yang terlalu berhati-hati harus bertumbuh di dalam keberanian.
Orang yang suka menguasai orang lain harus bertumbuh di dalam kepekaan.
Orang yang senang mencela harus bertumbuh didalam tenggang rasa.
Orang yang selalu berpikiran negatif harus bertumbuh di dalam sikap positif.

Orang yang senang mencari kepuasan jasmani harus bertumbuh di dalam berbagi rasa dengan orang-orang yang menderita.

Mana kala semuanya telah benar, TUHAN berkata, "PERGILAH."
Mukjizat terjadi:
Pecandu berat alkohol dilepaskan.
Pecandu obat bius menemukan kebebasannya.
Yang ragu-ragu menjadi percaya layaknya seorang anak kecil.
Jaringan tubuh yang terkena penyakit mulai menjadi sembuh karena pengobatan.

Pintu yang menuju ke arah impianmu tiba-tiba terbuka dan berdirilah Tuhan di sana sambil berkata, "PERGILAH!"

Ingatlah:
Penundaan oleh TUHAN bukan berarti pengingkaran janji TUHAN.
Waktunya TUHAN sempurna adanya.
Kesabaran adalah yang kita perlukan dalam berdoa.

Maju Dengan Iman

Iman dapat terlena apabila kita hanya terfokus pada kenyamanan diri sendiri, dan bukan pada rencana Tuhan. Abraham tidak jatuh ke dalam perangkap ini. Ia bersedia mempertaruhkan kenyamanan itu untuk hal yang belum diketahuinya dan menerima banyak berkat.

Hidup dengan iman adalah jawaban yang tepat ketika Allah memanggil Anda untuk maju. Panggilan Allah dapat terjadi di segala usia dan situasi. Abraham berusia 75 tahun ketika ia memulai perjalanannya. Daud sedang menjadi anak gembala ketika ia diurapi menjadi raja (I Samuel 16:11-13). Paulus bertemu Tuhan ketika ia dalam perjalanan ke Damsyik untuk menganiaya orang percaya Yahudi. Setelah bertobat, ia menjadi utusan Tuhan bagi orang non-Yahudi (Kisah Para Rasul 9:1-6). Panggilan kita mungkin tidak sedramatis itu, tetapi selalu membutuhkan langkah maju dengan iman.
Kejadian 12:1-20

Ikut Tuhan juga akan meliputi saat-saat ujian. Abraham, seperti halnya kita, juga mengalami keberhasilan maupun kegagalan. Panggilannya yang pertama untuk meninggalkan negerinya dihadapinya dengan iman yang teguh dan tindakan segera. Karenanya, Tuhan menjanjikan berkat besar baginya dan keturunannya. Tetapi, saat menghadapi kelaparan, sikap Abraham berbeda: ia pergi ke Mesir dan berbohong kepada raja Firaun tentang relasinya dengan Sarah, istrinya. Sikap kita dalam menanggapi perintah Allah sangat penting. Kita dapat membawa berkat, atau malah penderitaan, dengan tindakan kita.

Menaati Allah dapat membuat tidak nyaman. Orang-orang di sekitar kita mungkin mempertanyakan motif kita, atau tidak setuju dengan keputusan kita. Dan kita sendiri mungkin tidak ingin menuruti perintah-Nya. Tetapi iman akan tetap membuat kita melangkah maju dengan patuh. Iman membuat kita dapat terus maju dan mengalami berkat-berkat yang akan ditemukan dalam relasi kita dengan Kristus.