My Page Views

Thursday, January 12, 2012

PROFIL PEREMPUAN MENURUT ALKITAB

Oleh : Pdt. Bastian Ondi, Th.M *)
 
I.             PENDAHULUAN
1.      Tujuan Materi
-         Untuk lebih mengenal siapa dan seperti apa serta bagaimana seharusnya perempuan itu menurut Alkitab.
-         Perempuan akan lebih mengetahui hak-haknya, posisinya dalam hubungannya dengan laki-laki dan hal-hal rohani, dengan demikian diharapkan lebih meningkatkan perannya didalam hal keselamatan manusia seutuhnya, baik dirumah, Gereja dan komunitas.
2.      Profil perempuan ialah gambaran umum tentang siapa perempuan, seperti apa dia dan bagaimana dinilai (menurut Alkitab).
3.      Setiap perempuan itu unik, khas dan berbeda. Ini tidak berarti bahwa kurang sempurna. Dengan materi ini daharapkan agar mereka boleh menghargai keunikan dan menerima kedudukannya dengan penuh keyakinan serta percaya diri.

II.           IDENTITAS SEORANG PEREMPUAN
Identitas seorang perempuan dijalankan didalam kitab Kejadian pasal 2 dan 3. Identitas ini melekat pada diri seorang perempuan/wanita ketika diciptakan atau dibentuk dari tulang rusuk laki-laki/pria.
1.      Seorang Penolong.
Didalam Kejadian 2 : 18 TUHAN Allah berfirman : “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan menjadikan seorang penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”
-         Ungkapan “tidak baik” diungkapakan oleh Allah setelah 7 kali Ia menyatakan bahwa “Allah melihat semuanya itu baik” (Kejadian 1 : 4, 10, 12, 18, 21, 25, 31). Menurut TUHAN Allah bahwa “tidak baik” kalau laki-laki seorang  diri saja.
-         Identitas seorang perempuan sebagai “penolong” bagi laki-laki sangat berarti. TUHAN tidak pernah bermaksud menjadikan perempuan sebagai “budak” atau sebagai “yang dipekerjakan” oleh laki-laki. TUHAN Allah menciptakan perempuan dengan maksud “menolong” laki-laki.
-         Penolong yang “sepadan” dengan laki-laki, yang bebrbeda dengan ciptaan TUHAN yang lain. Perempuan diciptakan untuk menjadi rekan yang menolong laki-laki dan bersama-sama menanggung tanggung jawab (laki-laki) dan bersama-sama memenuhi maksud Allah.
2.      Perempuan.
Didalam Kejadian 2 : 23 Adam berkata : “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”
Ia diberi nama perempuan karena ia berasal dari laki-laki atau bagian dari kehidupan laki-laki. Karena ia diambil dari laki-laki, maka ada hubungan yang sangat dekat (intimasi) dengan laki-laki dan membentuk kesatuan yang tak terpisahkan. Ini tidak menekankan atasan dan bawahan atau tuan dan budak.
3.      Hawa.
Didalam Kejadian 3 : 20 Adam memberi nama Hawa kepada isterinya sebab dialah yang menjadi ibu dari semua yang hidup.
Menurut etimologi rakyat, nama ini berasal dari hayyah (hidup), “hayat”, Hawa, Eva (Kejadian 3 : 20). Ini bukanlah symbol dari semua yang hidup tetapi inilah kedudukan (posisi) yang tertinggi dan merupakan martabat sejati dari seorang perempuan, yaitu bukan saja sebagai “penolong laki-laki” tetapi ia mendapat kehormatan yang lebih tinggi yaitu menjadi “Ibu” pertama dari kehidupan manusia untuk “melahirkan keturunan” (Kejadian 1 : 28; 9 : 1-2) bandingkan juga 1 Timotius 2 : 15; 5 : 14.
Tidak ada sukacita kesenangan bathin, berkat atau kehormatan lebih tinggi yang dapat diperoleh oleh seorang perempuan sebagai isteri dan ibu yang melahirkan anak-anak, membesarkan dan memperkenalkannya pada TUHAN (Titus 2 : 4; 2 Timotius 1 : 5; 3 : 14-15).
Berkat ini adalah suatu bentuk pelayanan, baik kepada suaminya, maupun pada TUHAN.

III.         PEREMPUAN DILUKISKAN SEBAGAI :
1.      Sesuatu yang indah, cantik, molek (2 Samuel 11 : 2) dan berseri-seri (Kejadian 12 : 11; 24 : 16; Kidung Agung 1 : 8; Amsal 8 : 13)
2.      Seorang yang arif, bijaksana (2 Samuel 20 : 16)
3.      Seorang yang berlaku jahat, sesuatu yang busuk (Amsal 6 : 24)
4.      Yang bodoh, tolol, nekad (Ayub 2 : 10)
5.      Yang dihormati (Amsal 11 : 16)
6.      Mahkota suaminya (Amsal 12 : 4)
7.      Yang suka bertengkar (Amsal 21 : 19)
8.      Yang suka menyembunyikan hal perzinahan (Amsal 30 : 20)
9.      Yang terkemuka, terkenal (Kisah Para Rasul 17 : 12)
10. Yang dikuasai oleh berbagai nafsu (2 Timotius 3 : 6)
11. Yang kudus dan taat pada suami (1 Petrus 3 : 5)

IV.        TANGGUNG JAWAB PEREMPUAN/SERINGKALI KEWAJIBANNYA :
1.      Menyediakan makanan (Kejadian 18 : 6), Pekerjaan Rumah Tangga (Amsal 31 : 5)
2.      Menimba air (Kejadian 24 : 11, 13, 15, 16; 1 Samuel 9 : 11; Yohanes 4 : 7)
3.      Mengurus, merawat kambing domba (Kejadian 29 : 6; Keluaran 2 : 16)
4.      Menjahit pakaian dengan tangannya (Amsal 31 : 13, 19)
5.      Mengawasi pembantu rumah tangganya (Amsal 31 : 27)
6.      Bertani (Rut 2 : 8; Kidung Agung 1 : 6)
7.      Menggiling gandum (Matius 24 : 41; Lukas 17 : 35)
8.      Merayakan kemenangan bangsanya (Keluaran 15 : 20, 21; Hakim-hakim 11 : 34; 1 Samuel 18 : 6, 7)
9.      Menghadiri penguburan sebagai orang yang berdukacita (Yeremia 9 : 17, 20)

V.          HAK-HAK PEREMPUAN
1.      Berhak berumah tangga/menikah (I Korintus 7 : 36)
2.      Tidak boleh kawin dengan seizing orang tuanya (Kejadian 24 : 3, 4; 34 : 6; Keluaran 22 : 17)
3.      Berhak atas nazar atau sebuah nazar (Bilangan 30 : 3-9)

VI.        POSISI PEREMPUAN DALAM HUBUNGANNYA DENGAN LAKI-LAKI
1.      Diciptakan dari laki-laki (Kejadian 2 : 21-25)
2.      Diciptakan karena laki-laki (I Korintus 11 : 9)
3.      Diciptakan untuk menolong laki-laki (Kejadian 2 : 18, 20)
4.      Menyinarkan kemuliaan laki-laki (I Korintus 11 : 7-9)
5.      Tunduk kepada laki-laki (I Korintus 11 : 3)
6.      Menjadi subyek (tunduk) bagi laki-laki (Kejadian 3 : 16)
(Mengalami banyak kesakitan karena laki-laki)
7.      Menyebabkan laki-laki mendurhaka kepada Allah (Kejadian 3 : 6, 11, 12)
8.      Tak berdaya (tidak kuat) daripada laki-laki (I Petrus 3 : 7)
9.      Tunduk dan hormat pada suaminya (I Petrus 3 : 6; Kejadian 18 : 12)

VII.       POSISI PEREMPUAN DALAM HUBUNGANNYA DENGAN HAL-HAL ROHANI
1.      Memiliki wawasan atau pemahaman tentang Firman Tuhan (Hakim-hakim 13 : 23)
(Bisa memberi catatan/usulan dan bukan nasehat)
2.      Sebagai pendoa dan juga penerima jawaban doa (I Samuel 1 : 9-28)
3.      Memiliki pemahaman yang baik (bijak) daripada suaminya (I Samuel 25 : 3-42)
4.      Memiliki iman bahkan membawa keselamatan (Lukas 7 : 37-50)
5.      Menjadi sederajat dalam Kristus Yesus (Galatia 2 : 28)
6.      Diberikan penghargaan atas pelayanan (Filipi 4 : 2. 3)
7.      Meneruskan iman kepada yang lain/membangkitkan iman (II Timotius 1 : 5)
8.      Diharuskan belajar dari perempuan-perempuan yang tua (Titus 2 : 4)
9.      Diharuskan mendengar dan taat pada Torat (Yosua 8 : 35)
10. Ada satu halaman dalam kemah suci yang khusus untuk perempuan (Keluaran 38 : 8; 1 Samuel 2 : 22)
11. Dibolehkan turut dalam iringan music didalam rimah Tuhan sejak masa Daud (I Tawarikh 25 : 5, 6; Ester 2 : 65; Nehemia 7 : 67)

VIII.     SIFAT-SIFAT YANG BAIK DARI PEREMPUAN
Ada yang :
1.      Penurut dan suka taat (I Petrus 3 : 5-7); lebih lemah daripada laki-laki (I Petrus 3 : 7)
2.      Suka memperhatikan anak-anak (Keluaran 2 : 2-10)
3.      Setia (Ruth 1 : 14-18)
4.      Merindukan anak-anak (I Samuel 1 : 9-28)
5.      Mengutamakan kesederhanaan (Ester 1 : 10-12)
6.      Rajin (Amsal 31 : 10-31)
7.      Telaten – Sabar menyelesaikan segala sesuatu (Lukas 7 : 38-50)
8.      Suka menawarkan sesuatu yang baik (Yohanes 11 : 20-35)
9.      Lemah lembut dan menyayangi anak-anaknya (Yesaya 49 : 15; Ratapan 4 : 10)
10. Mencintai (II Samuel 1 : 26)

IX.         SIFAT-SIFAT YANG TIDAK BAIK DARI PEREMPUAN
Ada yang :
1.      Suka dikelabui oleh setan, gampang percaya pada bujukan (Kejadian 3 : 6, 7)
2.      Hati licik, cerdik, bisa menipu dengan halus (Amsal 7 : 10; Pengkhotbah 7 : 26)
3.      Bisa berakal bulus (Yesaya 3 : 16-24)
4.      Merasa aman/tenteram sendiri (Yesaya 32 : 9-11) artinya suka menyenangkan dirinya.
5.      Lemah dan mudah dikuasai oleh berbagai nafsu; mudah terbawa nafsu (II Timotius 3 : 6)
6.      Mudah dituntun pada suatu penyembahan berhala (Yeremia 7 : 18; Yehezkiel 13 : 17, 23)
7.      Ada yang sombong sifatnya (Yesaya 3 : 16)
8.      Suka pakaian dan perhiasan (Yesaya 3 : 17-23; Yeremia 2 : 32)
9.      Rambutnya dikepang dan memakai perhiasan emas dan mutiara (Yesaya 3 : 24; I Timotius 2 : 9)
10. Giat dalam membujuk untuk berbuat dosa (Bilangan 31 : 15, 16; I Raja-raja 21 : 25; Nehemia 13 : 26)

X.        HAL-HAL YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN OLEH PEREMPUAN (LARANGAN KHUSUS BAGI PEREMPUAN)
1.      Memakai pakaian laki-laki (Ulangan 22 : 5)
2.      Mencukur rambut (I Korintus 11 : 5-15)
3.      Merampas otoritas (I Timotius 2 : 11-15)
4.      Menjadi tidak senonoh (I Petrus 3 : 16)

XI.         HAL-HAL BURUK YANG SERING DIALAMI PEREMPUAN
1.      Tidak dikawinkan, dipandang sebagai suatu bencana (Hakim-hakim 11 : 37; Mazmur 78 : 63; Yesaya 4 : 1)
2.      Seringkali ditawan (Ratapan 1 : 18; Yehezkiel 30 : 17, 18)
3.      Hukuman karena menipu bilamana bertunangan (Keluaran 22 : 16, 17; Ulangan 22 : 28, 29)
4.      Seringkali diperlakukan dengan bengis pada masa peperangan (Ulangan 32 : 25;
Ratapan 2 : 21; 5 : 11; Hosea 14 : 1; Yehezkiel 9 : 6)
5.      Hukuman karena mencelakakan pada waktu hamil (Keluaran 21 : 22-25)

XII.       PEREMPUAN MELUKISKAN
1.      “Berpakaian dengan kemuliaan” (Jemaat Kristus) (Mazmur 45 : 14; Galatia 4 : 26; Wahyu 12 : 1)
2.      “Putih bersih dan suci” (orang-orang kudus) (Kidung Agung 1 : 3; II Korintus 11 : 2; Wahyu 14 : 4)
3.      “Melacurkan” (Kemurtadan Roma) (Wahyu 17 : 4; 18)
4.      “Bijaksana” (orang-orang kudus) (Matius 25 : 1, 2, 4)
5.      “Bodoh” (orang yang hanya mengaku saja) (Matius 25 : 1-3)
6.      “Yang lalai dan berfoya-foya” (suatu keadaan duniawi) (Yesaya 32 : 9, 11)
7.      “Ditinggalkan” (Jemaat Israel di pembuangan) (Yesaya 54 : 6)
8.      “Kelembutannya” (orang Israel yang murtad) (Yeremia 6 : 2)

XIII.     KESIMPULAN
Hubungan gender telah berubah lebih banyak dalam 25 tahun terakhir ini daripada 1000 tahun sebelumnya. Kaum perempuan menghadapi tantangan yang telah dikenal ibu dan nenek mereka. Dunia sekuler telah memaksa perempuan Kristen untuk menganalisis dan menyatakan konsep dan keyakinan mereka dalam terang Alkitab yang berhadapan dengan budaya, demikian dikatakan Christine Haggai ketika menulis pengantar buku Being God’s Women (karangan Audrey Bowie).
                  Ketika semua setuju bahwa dibelakang seorang laki-laki yang sukses selalu ada perempuan yang tangguh dan hal itu merupakan penggenapan dari maksud dan tujuan Allah ketika menciptakan seorang “penolong” yang sepadan bagi seorang pria. Karena itu, ditengah dunia yang telah mengalami banyak kemajuan dan yang terus bergumul dengan masalah gender, “profil perempuan menurut Alkitab” boleh menjadi cahaya kecil yang menerangi setiap peran yang jelas seperti yang diindikasikan oleh Allah didalam Alkitab.
Perempuan bukanlah makhluk yang lebih rendah. Tapi kaum ini special, spesifik dan unik menurut rencana Allah. Selain melahirkan anak-anak (ini anugerah yang besar), mengerjakan tugas-tugas rumah tangga tapi juga memainkan peran yang tidak kalah penting dengan laki-laki dalam strategi Tuhan Allah untuk keselamatan manusia. Oleh sebab itu, gunakanlah potensi-potensi, kualitas-kualitas yang diberikan oleh Allah demi memenuhi kehendak Allah di Sorga. Karena Yesus berkata, “Siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di Sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku” (Matius 12 : 50)


*) Wakil Ketua Sinode Gereja Injili Di Indonesia (GIDI); Gembala Sidang Jemaat GIDI Flavouw Sentani.

Thursday, September 22, 2011

Penolakan


“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
(Kolose 3:13)



Rasanya sulit jika Anda ditolak, terutama bila yang menolak adalah seseorang yang Anda cintai. Mungkin salah satu dari anak-anak Anda, pasangan Anda, atau teman dekat.
Tetapi Alkitab mengatakan Anda perlu mengampuni orang itu karena Allah sudah lebih dulu mengampuni Anda.
Kunci untuk mampu mengampuni orang lain ada dalam ayat hari ini. Kuncinya adalah dengan mengingat apa yang Tuhan sudah lakukan bagi Anda. Bila Anda ingat apa yang Yesus Kristus lakukan untuk Anda, maka Anda memiliki kekuatan untuk memaafkan orang lain.
Jika Anda berpegang pada rasa sakit, maka itu hanya akan berakhir dengan menyakiti diri Anda sendiri. Bila Anda tidak mengampuni orang lain, Anda menciptakan kepahitan dan kemarahan dalam diri Anda. Ini akan menggerogoti Anda dari dalam dan menguras energi Anda, membuat Anda lelah sepanjang waktu. Setiap kali Anda mulai merasa kepahitan terhadap seseorang, ingatlah apa yang Yesus lalukan di kayu salib, bagaimana Dia mengasihi Anda dan Dia rela untuk memberikan nyawa-Nya sehingga dosa-dosa Anda dapat diampuni. Dia ditolak dan dihina saat Dia tergantung di sana, tapi Dia melihat semua orang dan berdoa, “Bapa, ampunilah mereka. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan” (Lukas 23:34)
Dalam kelemahlembutan dan kerendahan hati yang lengkap, Yesus memberikan nyawa-Nya karena Dia mencintai Anda. Dia tidak memikirkan diri-Nya sendiri, Dia sedang memikirkan Anda. Petrus berkata, “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” (1 Petrus 2:23)
Definisi pengampunan ditemukan dalam dua kata dalam ayat itu: “menyerahkannya kepada Dia.” Anda membiarkan Tuhan bekerja dan membuat hal-hal menjadi benar. Pengampunan bukan tentang mempercayai orang itu lagi atau melupakan segala sesuatu yang terjadi. Ini tentang menempatkan situasi di tangan Tuhan, bukan mencari kesempatan untuk balas dendam atau menyimpan dendam. Dalam kelemahlembutan dan kerendahan hati yang lengkap, Yesus memberikan nyawa-Nya karena Dia mencintai Anda.
Dia tidak memikirkan diri-Nya sendiri, Dia sedang memikirkan Anda.

Tuhan memberkati anda....  :)

Wednesday, September 14, 2011

SELAMATKAN PERNIKAHAN SEBELUM DIMULAI


Alkitab tidak mengenal prinsip jodoh atau “saoulmate”, dimana Tuhan menciptakan satu orang secara khusus hanya untuk satu orang. Kitalah yang akan memilih siapa yang menjadi pasangan hidup kita, tentu saja harus sesuai dengan prinsip yang diajarkan Alkitab. Firman Tuhan mengajarkan prinsip, menikah sekali untuk selamanya dan memiliki hanya satu pasangan hidup saja alias monogami. Adam hanya memperistri Hawa sampai ajal menjemput mereka. Alkitab tidak mengajarkan kita untuk menemukan seseorang yang telah Tuhan tetapkan bagi kita, namun memberitahu bagaimana kita harus memilih pasanagan hidup yang sepadan.

MOTIVASI SALAH, MENDAPATKAN PASANGAN HIDUP YANG SALAH
Angka perceraian di Surabaya pada awal 2011 mengalami peningkatan. Januari-Februari 2011 jumlah angka perceraian sebanyak 883 kasus, lebih banyak dibanding tahun 2010 yang tercatat 823 perkara. Data statistik ini menunjukan semakin banyak orang yang tidak mau berjuang lebih keras untuk mempertahankan pernikahan mereka, yang akhirnya berujung pada perceraian. Sayangnya, perceraian yang dulu dilakoni oleh mereka yang tidak percaya pada firman Tuhan, kini merambat ke kalangan orang Kristen.
            Mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa begitu banyak pernikahan yang gagal dan berujung pada perpisahan? Mark Gungor berpendapat bahwa masalah tersebut berasal dari harapan yang dimiliki pasangan suami-istri, yaitu mengenai gambaran ideal sebuah pernikahan menurut versi mereka masing-masing yang tidak dikomunikasikan secara verbal.
            Tingkat percaraian yang tinggi sampai kepada orang Kristen juga kelihatannya disebabkan karena terlalu banyak pemuda/i Kristen yang membuat kesalahan dalam memilih pasangan dengan siapa dia akan menghabiskan sisa hidupnya; dengan siapa dia akan membangun sebuah keluarga yang harmonis, yang tetap bertahan dalam suka maupun duka. Untuk menghindari kesalahan yang fatal, perhatikanlah alasan-alasan salah yang membuat seseorang salah memilih dan menikah dengan pasangan hidup yang salah.

1. Kita memilih orang yang salah jika berharap dapat mengubahnya menjadi pribasi yang kita inginkan setelah menikah.
Akan sangat baik jika kita menikah dengan orang yang dapat kita menerima apa adanya. Pada masa pacaran kenalilah karakter, pola pikir, keterampilan si dia dalam berkomunikasi, cara dia berinteraksi, apakah dia pekerja keras atau pemalas, apakah dia orang yang bertekad kuat atau mudah menyerah, apakah kepribadiannya terbuka (ekstrovert) atau tertutup (introvert), hobinya apa, fisiknya lemah atau kuat, dll. Setelah mengetahui hal-hal diatas barulah kita dapat memasuki tahap yang lebih serius, tahap untuk memutuskan bersedia atau tidak menerima semuanya dengan hati yang terbuka.
Jika ada hal-hal “buruk” dalam diri calon pasangan kita, yang kita anggap tidak bisa kita terima karena itu sangat prinsip, sebaiknya kita berpikir ulang untuk meneruskan hubungan itu ke arah yang lebih serius. Misalnya, kita berpacaran dengan orang yang hanya Kristen KTP, sementara kita sangat aktif pelayanan, sebaiknya hal ini dipikirkan ulang. Jangan berpikir bahwa setelah menikah kita bisa mengubah dia menjadi orang yang rohani, yang bersedia masuk ke dalam komunitas orang yang melayani. Pola pikir ini bisa menjadi jebakan bagi kita, bahkan kelak bisa membuat kita menjauh dari Tuhan. “Janganlah kami merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? “ (2 Korintus 6 : 14)
      Contoh lainnya adalah kita sudah tahu bahwa pacar kita seorang pemalas tetapi karena ingin melepas status lajang, kita nekat menikah dengannya. Keputusan ini akan menjadi perangkap yang kita pasang untuk menjerat kita sendiri masuk ke dalam kesusahan yang berkepanjangan, yang tidak seharusnya kita jalani.

2. Kita memilih orang yang salah jika lebih fokus pada penampilan fisik, perasaan dan “chemistry” daripada karakter.
Penampilan fisik yang baik berpotensi besar membuat perasaan kita tertarik terhadap seseorang, bahkan menimbulkan “chemistry” yang kuat dan itu natural! Biasanya kalau sudah demikian, perasaan akan berperan lebih dominan daripada logika. Seharusnya kita lebih mementingkan karakter daripada penampilan lahiriah. Di dalam mebangun sebuah pernikahan yang kuat, kematangan karakter jauh lebih penting daripada penampilan fisik dan “chemistry”, walaupun kedua hal ini tidak bisa diabaikan.
Keempat sifat ini bisa menunjukan kematangan karakter seseorang.
-          Kerendahan hati.
Apakah si dia memiliki kerendahan hati? Kerendahan hati akan nyata tatkala kita masuk dalam sebuah konflik, diamana kedua belah pihak bisa keluar dari situasi itu jika ada yang mengalah. Tidak peduli siapa yang salah atau benar, tetapi respon yang ditunjukan akan memperlihatkan kerendahan hati calon pasangan hidup kita.
Mengapa kita butuh pasangan yang rendah hati? Karena pernikahan sarat dengan masalah dan perbedaan, yang berpotensi menimbulkan konflik. Konflik antar pasangan harus diselesaikan sedapat-dapatnya sebelum mengakhiri hari dan ini membutuhkan kerendahan hati. Kalau tidak diselsaikan secara tuntas konflik itu akan terakumulasi dan bisa menjadi bom waktu yang berujung pada perceraian. “Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.” (Amsal 11 : 2)
-          Baik hati.
Perhatikan apakah dia orang yang suka memberikan “kesenangan” kepada orang lain? Orang suka membahagiakan orang lain akan membahagiakan pasangannya, sebaliknya orang sukacita bersukacita tatkala mebuat orang lain tertekan dan menderita akan membuat hidup pasangannya demikian. Kebaikan hati calon pasangan hidup kita bisa ketahui dari teman-teman atau orang yang kerap berinteraksi dengannya. “Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.” (Amsal 22 : 9)
-          Tanggung jawab.
Karakter ini sangat penting, karena orang yang bertanggung jawablah yang dapat bertahan di dalam keadaan yang sangat sukar sekalipun. Seorang pria akan bertanggung jawab menafkahi dan melindungi keluarga, wanita akan bertanggung jawab mengatur semua keperluan keluarganya. “Ia bangun kalau masih malam lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.” (Amsal 18 : 14)
-          Sukacita.
Perhatikan apakah calon pasangan hidup kita orang yang pemurung, suka bersungut-sungut atau orang yang bersukacita. Orang yang memperlihatkan sukacita menunjukan bahwa emosinya lebih stabil, karena orang yang bersukacita dapat menanggung beban. “Orang yang bersemangat dapat menaggung beban penderitaannya, tetapi siapa yang akan memulihkan semangat yang patah?” (Amsal 18 : 14)

3. Kita memilih orang yang salah jika mengutamakan keterlibatan fisik.
Keterlibatan fisik memang secara langsung memang diperlukan, tetapi itu nanti setelah diberkati di hadapan Tuhan dan umatNya. Pria atau wanita yang benar-benar menyayangi pasangannya tentu akan menjaga kehormatan pasangannya. Karena itu tidak perlu ada alasan “test drive” untuk mengetahui apakah calon pasangannya “compatible” atau cocok secara fisik.
Dari semua studi yang dilakukan pada perceraian, ketidakcocokan dalam arena intim ini sangat kecil, bahkan hampir tidak pernah dikutip sebagai alasan utama mengapa orang bercerai. Jadi pastikan bahwa kita akan menikah dengan orang yang menghargai dan menjaga kehormatan sampai kita diberkati didepan altar, yang tidak menuntut keterlibatan fisik sebelum tiba waktunya. “Kusumpahi kamu, putrid-putri Yerusalem, demi kijang-kijang atau demi rusa-rusa betina di padang; jangan kamu membangkitkan dan menggerakan cinta sebelum diinginkannya!” (Kidung Agung 3 : 5)

4.   Kita memilih orang yang salah jika tidak memiliki hubungan emosional yang mendalam dengan calon pasangan hidup.
Kita memilih orang yang salah menjadi pendamping hidup jika memilih seseorang yang seringkali kita merasa tidak nyaman secara emosional ketika bersamanya. Jika kita takut untuk mengungkapkan perasaan, keinginan dan pendapat secara terbuka, itu menunjukan masih belum terjalin hubungan emosional yang sehat. Untuk menguji hal ini, tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut kepada diri sendiri! Apakah saya merasa tenang, damai sejahtera dan bisa santai dengan orang ini? Dapatkah saya sepenuhnya menjadi diri sendiri dan mengekspresikan diri ketika bersama orang ini? Apakah orang ini bisa membuat saya memandang diri saya lebih baik? Tentu sanagt baik jika orang menikah dengan kita adalah orang yang bisa membuat kita merasakan damai sejahtera dibanyak kesempatan, walaupun sarat dengan perbedaan. Aspek lain dari hubungan emosional yang sehat adalah : tidak mencoba untuk mengontrol hidup calon pendamping kita dan sebaliknya. Ada perbedaan besar antara “mengendalikan” dan “memberi saran”. Saran diberi untuk keuntungan atau membangun kehidupan kita, sedangkan kontrol dilakukan untuk keuntungan si pemberi kontrol. “Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan. (1 Tesalonika 5 : 11)

5.   Kita memilih orang yang salah jika tidak saling berbagi tujuan hidup dan prioritas.
“Jodoh” adalah dua pribadi yang mampu berbagi pemahaman yang sama tentang tujuan hidup, prioritas dan nilai-nilai hidup. Setelah menikah, idealnya kedua pribadi yang bersatu tumbuh bersama didalam mencapai tujuan hidup dan prioritas itu. Karena itu pada masa pacaran sangat baik jika kita mulai menyamakan tujuan dan prioritas dalam hidup, supaya didalam menjalani pernikahan yang sarat dengan perbedaan kita dapat menyesuaikan diri dengan apa yang sudah kita diskusikan atau sepakati.

6.   Kita akan memilih orang yang salah jika ingin menikah sebagai upaya melarikan diri dari masalah pribadi atau ketidakbahagiaan.
Jika kita tidak bahagia dalam menjalani hidup dimasa single/lajang, ada kemungkinan tidak akan bahagia saat menikah. Pernikahan bukan solusi untuk memperbaiki kehidupan pribadi, psikologis atau emosional seseorang, justru bisa memperburuk karena harus menjalani masa penyesuaian yang sarat dengan masalah dan perbedaan, yaitu perbedaan keyakinan, tujuan, nilai-nilai, gaya hidup, dsb. Perbaiki dan berbahagialah selagi kita masih lajang, maka kelak pasangan hidup kit akan berbahagia hidup bersama kita.

7. Kita memilih orang yang salah jika ia sangat bergantung kepada keluarganya.
Ada orang yang secara emosionla sangat bergantung pada ayah/ibu/kakak/adik, tetapi disisi yang lain ia ingin membangun hubungan dengan pasangan hidupnya. Memang kita tidak bisa dipisahkan dari orang tua serta saudara-saudara sedarah, tetapi ketergantungan yang berlebihan kepada mereka akan memberikan akibat yang buruk dalam rumah tangga yang ingin kita bangun. Ketika Yakub menikah dengan Lea dan Rahel, kedua wanita itu melepaskan ketergantungan mereka terhadap keluarganya dan berkomitmen untuk lebih erat kepada suaminya, meskipun mereka hidup dengan orang tuanya. Jika calon pendamping hidup kita tidak mampu bersikap tegas terhadap campur tangan orang tuanya yang diluar batas, maka kelak ia akan mengalami kendala untuk mencintai kita.

MEMUTUSKAN UNTUK MEMILIH PASANGAN HIDUP YANG TEPAT
Karakter adalah dasar dari setiap hubungan yang sehat. Kunci untuk memilih pasangan hidup yang tepat adalah mencari seseorang yang berkarakter baik. Karakter akan menentukan cara seseorang memperlakukan dirinya, pasangannya dan anak-anaknya. Lalu, apa yang  harus kita perhatikan dalam memilih pasangan hidup? Bagaimanakah kita mengetahui bahwa diaa adalah orang yang tepat untuk dinikahi? Perhatikan 6 kriteria di bawah ini!

1.   Komitmen terhadap pertumbuhan pribadinya.
Jika kita mampu menemukan seseorang yang memiliki komitmen terhadap pertumbuhan rohani pribadinya, berarti kita telah meraih setengah dari pernikahan yang bahagia. Komitmen terhadap pertumbuhan rohani artinya, dia berusaha hidup sesuai dengan prinsip-prinsip firman dan melakukannya. Dia juga benar-benar yakin bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber iman baginya. Firman akan membuatnya hidup dalam kasih, mengampuni, bisa menerima kelemahan dan kelebihan pasangannya (1 Yohanes 4 : 7, 12)

2.   Keterbukaan emosional.
Ada banyak pernikahan yang tidak bahagia karena salah satu pasangan memiliki latar belakang menyakitkan yang menyebabkan dia tertutup secara emosional. Jika orang tuanya tidak pernah mengatakan bahwa mereka mengasihinya, kemungkinan ia tidak mampu mengungkapkan bahwa ia mampu mengasihi kita. Jika dia sangat terluka oleh mantan kekasihnya di masa lalu dan belum dipulihkan, akan sangat sulit baginya untuk menunjukan perhatiannya kepada kita. Kita tidak akan menikmati kebahagiaan jika tinggal bersama seseorang yang tidak mampu berbagi perasaan dengan orang yang dikasihinya. Karena itu kita perlu berdoa untuk mendapatkan seseorang yang sudah dipulihkan dan mampu menunjukan kasihnya kepada semua orang.

3.   Berintegritas.
Agar suatu hubungan dapat berjalan baik, kejujuran dan sikap yang dapat dipercaya harus dibangun menjadi fondasinya. Mengetahui bahwa si dia dapat dipercaya memberi rasa aman tersendiri bagi kita. Apabila kita selalu ketakutan, jangan-jangan si dia bohong, itu akan membuat kita menanggung kekhawatiran yang berkepanjangan. Jika kita meragukan integritasnya, maka kita akan kehilangan rasa hormat terhadapnya; kita tidak dapat memercayai perkataan dan tindak tanduknya, dan hal ini adalah masalah! Oleh karena itu, pilihlah pasangan hidup yang berintegritas. Walaupun sulit, tanamkanlah dalam hati bahwa mendapat pasangan hidup yang berintegritas berarti mendapat harta terpendam!

4.   Memiliki citra diri yang sehat.
Apa ciri-ciri orang yang citra dirinya sehat? Ia tahu bahwa dirinya sangat berharga didalam Kristus. Ia akan merawat dirinya dengan baik karena ia mampu mengasihi dirinya.

5.   Bersikap positif dalam hidup.
Orang yang positif menciptakan hubungan yang positif. Orang yang negatif menciptakan hubungan yang negatif. Itu sebabnya menikah dengan orang yang negatif berarti memutuskan untuk hidup dalam kesukaran. “Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah daripada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar.” (Amsal 21 : 9)

6.   Ada perasaan tertarik.
Tanpa perasaan tertarik kita tidak akan pernah jatuh cinta. Mungkinkah kita memiliki pernikahan yang bahagia dengan seseorang yang tidak menarik hati kita? Rasanya tidak! Jatuh cinta dengan seorang sahabat akan menjadi pengalaman yang luar biasa dalam hidup seseorang. Survey membuktikan bahwa pasangan yang menjalin persahabatan terlebih dahulu, kemudian meningkat ke hubungan sebagai pasangan akan mengalami pernikahan yang lebih sukses dan memuaskan.

Diatas semuanya itu, berdoalah dengan sungguh hati sebelum kita memutuskan dengan siapa akan menikah. Doa adalah langkah pertama dan terutama yang harus diambil ketika seorang pengikut Kristus ingin memilih pasangan hidupnya. Tentu Tuhan akan memberi hikmat dan tuntutan bagi orang yang mencari wajahNya dengan sungguh-sungguh. Ya, berdoalah supaya dapat memilih pasangan hidup dengan bijaksana!
(1 Yohanes 4 : 7, 12)
 





Sunday, September 11, 2011

KESETIAAN TIDAK AKAN MENGGANTI PENDERITAAN KITA

(Bagian dari Khotbah Berseri MEMBANGUN KECERDASAN HIDUP MENUJU KEDEWASAAN ROHANI)
Oleh : Pdt. BASTIAN ONDI, Th.M*)
Referensi : Mazmur 119

Kebanyakan orang Kristen berpikir bahwa setelah kita percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi maka semua masalah dalam kehidupan yang kita alami akan otomatis selesai begitu saja atau dengan kata lain kita tidak akan mengalami masalah lagi dalam hidup ini. Ini adalah pemahaman yang keliru, sebenarnya penderitaan dan kesusahan yang kita alami adalah bagian dari panggilan kita sebagai orang percaya.

Kesusahan sengaja diadakan oleh Tuhan Allah dalam kehidupan orang Kristen supaya percaya sepenuhnya kepada-Nya. Coba kita lihat apa yang dialami oleh kita pada umumnya, pada saat kita sehat, mempunyai uang yang cukup banyak, memperoleh kenaikan pangkat, atau mengalami banyak hal yang menyenangkan kita sering lupa untuk mengucap syukur dan berterima kasih, tetapi saat kita sakit pasti kita akan berdoa dan mulai membaca Alkitab serta merenungkannya.

Ada 3 (tiga) kesusahan yang datangnya dari Tuhan Allah, yaitu :
1.       Tuhan Allah sengaja membuat kesusahan dan penderitaan dalam kehidupan orang percaya.
2.       Tuhan Allah membiarkan kesusahan dan penderitaan terjadi dalam hidup orang percaya.
3.       Tuhan Allah seringkali membiarkan kesusahan dan penderitaan terjadi dalam hidup orang percaya.
Dalam ayat 75,”Aku tahu, ya TUHAN, bahwa hukum-hukum-Mu adil, dan bahwa Engkau telah menindas aku dalam kesetiaan.”
Jadi, kesetiaan kepada Tuhan Allah tidaklah mengganti penderitaan kita.

Dan didalam ayat 85, 86, 87, 88, 89, 107, 109, 110, 153, 167, 169, 170, 173, 175, 176 menulis bahwa Tuhan Allah mengijinkan kesengsaraan, kesusahan dan penderitaan datang dalam diri pemazmur tetapi pemazmur tetap berpegang kepada Firman Allah.
Doa yang pemazmur ucapkan benar-benar menunjukan bahwa Tuhan Allah lah yang berhak atas hidup ini serta mengijinkan semuanya terjadi sehingga apapun yang dialami pemazmur, pemazmur  tetap percaya kepada Tuhan Allah.

Kesengsaraan, kesusahan dan penderitaan membuat otak kita menjadi tidak berpikir panjang. Kadang berdoa sebentar, manangis sebentar, mengeluh sebentar dan menggerutu lagi, seakan-akan harapan ini tidak ada. Tetapi lihat didalam Alkitab yang menunjukan kesetiaan kepada Tuhan Allah tidak mengganti penderitaan yang dialami, seperti Abraham, Ayub, Yusuf, Yeremia atau Rasul Paulus. Tuhan Allah mau agar kita sepenuhnya berharap kepada-Nya dalam situasi apapun, karena Tuhan Allah sangat mengasihi kita sehingga apapun yang kita alami selalu mendatangkan kebaikan.

Tuhan memberkati...

“TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
(Ratapan 3 : 24)
 
*) Wakil Ketua Sinode Gereja Injili Di Indonesia (GIDI); Gembala Sidang Jemaat GIDI El-Shaddai Sentani, Jayapura.

Wednesday, June 1, 2011

FILOSOFI DASAR DALAM HIDUP

Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, "Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga ?" Si bapak tua menjawab, "Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."
Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup - jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.


Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.
Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik.

Ini semua dapat diartikan :
supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi.

Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik.
Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkan.

Berkeras hati & berusaha mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal, suatu keadaan atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.
Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya. Karena tiada badai yang tak berlalu. Tiada Pesta yang tak pernah Usai. Semua yang ada didunia ini tiada yang abadi.